Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp8.9 Triliun Ke Kas Negara

Semarang (10/05/2019) – Bea Cukai Jateng DIY s.d. 30 April 2019 telah berhasil mengumpulkan pundi-pundi penerimaan Negara sebesar Rp 8.9 Triliun. Penerimaan ini telah melampaui target proporsional (target s.d. April) yang ditetapkan sebesar Rp 7.39 Triliun, atau tercapai 120.48% dari target yang ditetapkan. Kepala Kanwil jateng DIY, Parjiya dalam rapat Dialog Kinerja Organisasi pada Rabu (8/5/2019) dihadapan jajarannya mengatakan bahwa data realisasi penerimaan ini merupakan sinyal yang baik di awal tahun. Parjiya berpesan agar jajarannya dapat berkomunikasi kepada penyumbang terbesar untuk memberikan apresiasi sekaligus mendorong agar kinerjanya dapat ditingkatkan, namun tetap dalam kerangka integritas yang kuat. ”Berikan apresiasi kepada PT. Djarum dan lainnya atas kontribusinya, namun tetap dorong agar kinerjanya ditingkatkan, sehingga pasar rokok illegal bisa diisi dengan rokok legal”, pesannya.

Angka Rp 8.9 Triliun ini terdiri dari bea masuk sebesar Rp 774.6 Miliar, bea keluar sebesar Rp 35.2 Miliar, dan cukai sebesar Rp 8.1 Triliun. Realisasi penerimaan s.d April 2019 ini merupakan yang tertinggi jika dibandingkan realisasi penerimaan dalam 4 tahun terakhir. Secara keseluruhan, pada tahun 2019 Bea Cukai Jateng DIY dibebankan target penerimaan sebesar Rp 40,4 Triliun. Realisasi Rp 8.9 Triliun baru sebesar 22.5% dari target. Namun demikian secara proporsional sudah melampaui target, bahkan jumlah tersebut lebih tinggi dibanding capaian 2018 yang hanya 14,46% dari target.

Penerimaan Januari s.d. April 2019 tumbuh sebesar 59,38% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sebagian besar disumbang oleh penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) sebesar 56,54% sebagai efek dari penundaan pembayaran cukai atau relaksasi 2 minggu terakhir tahun 2018 yang berimbas pada pembayaran di awal tahun 2019 sebesar Rp 2,78 Triliun. Tren positif penerimaan diharapkan terus terjaga hingga akhir tahun sehingga target penerimaan dapat tercapai. Realisasi penerimaan yang utamanya bersumber dari CHT ini diharapkan juga sejalan dengan peningkatan produksi HT untuk mengisi pasar yang selama ini diisi oleh rokok illegal. Dengan demikian target penurunan rokok illegal secara nasional dari 7% menjadi 3% dapat tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *