Fasilitas KITE Akan Tingkatkan Laba PT Green Glove Indonesia Hingga Miliaran Rupiah

Semarang, (8/8) – Untuk terus mendorong pertumbuhan industri di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Bea Cukai Jateng DIY berikan perizinan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Pembebasan kepada PT Green Glove Indonesia (GGI)  pada Rabu, 7 Agustus 2019.  Perizinan ini merupakan perizinan KITE Pembebasan ke-3 yang diterbitkan Bea Cukai Jateng DIY di tahun 2019. Fasilitas KITE Pembebasan merupakan fasilitas fiskal berupa pembebasan Bea Masuk (BM) serta tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas impor bahan baku untuk diolah, dirakit dan dipasang yang hasil produksinya untuk diekspor.

”Fasilitas KITE Pembebasan ini akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Namun demikian perusahaan harus tetap patuh dengan ketentuan yang berlaku terutama terkait pendayagunaan IT Inventory yang merupakan subsistem dengan sistem akuntansi perusahaan dan harus dipergunakan secara terus-menerus,” pesan Juli Tri Kisworini, Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai.

General Manager PT GGI, Ari Dianingsih mewakili Direktur Utama menyampaikan bahwa dengan adanya fasilitas KITE Pembebasan, PT GGI akan mengoptimalkan efisiensi biaya produksi dan pemakaian material.”Efisiensi biaya sebagai dampak fasilitas KITE Pembebasan akan membantu perusahaan meningkatkan laba hingga Rp 576 juta pada tahun 2019, Rp2,125 Miliar pada tahun 2020 dan Rp2,65 Miliar di tahun 2021,” ungkapnya.

PT GGI merupakan perusahaan produksi sarung tangan yang berdiri sejak tahun 2011. Selama ini perusahaan hanya berproduksi untuk pekerjaan subkontrak dan di tahun 2019 ini perusahaan akan memulai melakukan ekspor sendiri. Perusahaan menargetkan produksi sarung tangan untuk tahun 2019 sebanyak 2.205.000 pcs ( 1.525.000 subkon + 680.000 ekspor), tahun 2020 sebanyak 3.300.000 pcs ( 600.000 subkon + 2.700.000 ekspor) dan tahun 2021 sebanyak 3.600.000 pcs.

Adanya fasilitas KITE Pembebasan akan membuat biaya impor bahan baku perusahaan menjadi rendah sehingga perusahaan dapat mengekspor hasil produksinya dengan harga yang lebih bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain di pasar global. Meningkatnya daya saing maka akan memperluas pasaran sehingga order yang diterima perusahaan pun akan meningkat, hal ini tentu akan meningkatkan devisa ekspor dan investasi. Dengan jumlah order yang semakin meningkat, kapasitas produksi juga akan semakin meningkat, hal ini tentu akan memicu adanya penambahan tenaga kerja perusahaan. Tidak hanya itu, keuntungan perusahaan yang meningkat akan menambah kesejahteraan karyawan sehingga akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *