Fasilitas Kepabeanan Sebagai Upaya Tingkatkan Daya Saing Ekspor TPT

SEMARANG (29/08) – Fasilitas Kepabeanan menjadi salah satu instrumen yang dapat mendukung peningkatan daya saing ekspor hasil produksi Indonesia termasuk tekstil dan produk tekstil. Hal tersebut disampaikan Juli Tri Kisworini, Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai saat menjadi narasumber pada acara Bimbingan Teknis Peningkatan  Daya Saing Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang diadakan oleh Direktorat Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan pada Kamis, 29 Agustus 2019 bertempat di ruang pertemuan Hotel PO Semarang.

Neraca perdagangan yang defisit pada tahun 2018 sebesar US$ 8,57 miliar mendorong pemerintah untuk terus berupaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi salah satunya dengan peningkatan ekspor. Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Merry Maryati menyampaikan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi tantangan bagi Indonesia baik internal maupun eksternal yang diantaranya perang dagang yang saat ini terjadi antara Amerika Serikat dengan China, revolusi industri 4.0. “Apa yang harus kita lakukan? Kita harus punya visi, yaitu memiliki daya saing dan keterbukaan”, pungkasnya.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk ekspor adalah dengan memberikan fasilitas kepada industri-industri salah satunya melalui fasilitas kepabeanan diantaranya fasilitas layanan dan fasilitas fiskal yang diberikan oleh Bea Cukai. Fasilitas layanan yaitu dengan simplifikasi prosedur, perijinan yang cepat dan gratis (trust and verify). “Sejak April 2018 perijinan di Bea Cukai untuk mendapatkan fasilitas kepabeanan hanya memerlukan waktu 3 hari 1 jam, ijin sudah dapat diberikan selama persyaratan dipenuhi”, tegasnya. Sedangkan fasilitas fiskal yaitu berupa pembebasan dan penangguhan Bea Masuk serta tidak dipungut pajak dalam rangka impornya. Juli menyampaikan bahwa selama ini fasilitas kepabeanan yang diberikan kepada industri TPT adalah berupa fasilitas Tempat Penimbunan Berikat (TPB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Juli juga menyampaikan bahwa industri TPT merupakan jenis industri yang paling banyak mendapatkan fasilitas TPB dan KITE. Juli juga menambahkan bahwa ekspor TPT pada periode kuartal 1 tahun 2019 mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu sebesar 18,98% pada periode yang sama di tahun 2018. “Apalagi jika perjanjian Indonesia-Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) disetujui saya yakin akan naik 3 kali lipat”, ujarnya.

Dengan acara tersebut diharapkan para pengusaha TPT khususnya di Jawa Tengah dapat menggali berbagai macam informasi guna peningkatan daya saing produknya di pasar global dan dari diskusinya akan dapat memberikan masukan dalam menyusun strategi dalam upaya peningkatan daya saing produk TPT Indonesia di tengah berbagai tantangan baik internal maupun eksternal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *