Bea Cukai Jateng DIY Bersyukur Isu Audisi Bulutangkis PB Djarum Selesai, Berharap Cukai Aman

Semarang 13/9/2019 , Kepala Kantor Wilayah Jateng DIY, Parjiya menyampaikan rasa syukur atas selesainya permasalahan audisi bulutangkis PB Djarum. “Alhamdulillah isu yang berkembang akhir-akhir ini terkait audisi bulutangkis PB Djarum sudah selesai. Mudah-mudahan tidak berkembang lagi karena dikhawatirkan dapat mempengaruhi penerimaan cukai. Kenapa bisa mempengaruhi penerimaan cukai?, karena penerimaan cukai tergantung pada kinerja perusahaan rokok, dan Djarum adalah kontributor terbesar di Jateng”, demikian disampaikan Parjiya hari ini Jumat 13 September 2019 di kantornya.


Parjiya menambahkankan bahwa Jateng adalah salah satu tulang punggung penerimaan cukai nasional. Jateng merupakan Provinsi peringkat ke-2 kontributor Cukai, menyumbang hampir 25% penerimaan cukai nasional. Pada tahun 2018 lalu, penerimaan cukai nasional sekitar Rp 152,9 Triliun, dan Jateng menyumbang Rp35.6 Triliun. Penerimaan cukai juga menjadi salah satu tulang punggung APBN. Lebih lanjut Parjiya juga menginformasikan tentang Pajak Rokok dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). “Negara selain memperoleh penerimaan cukai juga menerima Pajak Rokok yang akan dikembalikan secara penuh menjadi penerimaan Pemerintah Daerah. Nilainya 10% dari cukai. Jadi jika di 2018 cukainya 152,9 Triliun, maka Pajak Rokok yang diterima daerah sebesar Rp15.3 Triliun. Sedangkan DBHCHT merupakan bagian yang akan diterima Pemerintah Daerah yang diambil dari total realisasi penerimaan cukai. Besarannya 2%”, bebernya.


Informasi perkembangan penerimaan cukai 2019 juga disampaikan Parjiya. Dia mengatakan bahwa sampai dengan Agustus Bea Cukai Jateng DIY sudah mengantongi cukai sebesar Rp20.11 Triliun. Meskipun baru 52.68% dari target sebesar Rp38.17 Triliun, namun penerimaan ini sudah tumbuh 10.07% dari tahun lalu. Meski berat, Parjiya optimis target dapat tercapai di akhir tahun. “Tantangan besar pencapaian cukai tahun ini adalah tidak adanya kenaikan tariff cukai rokok di 2019, sehingga faktor utama capaian penerimaan cukai tahun ini adalah tingkat produksi rokok. Selain itu berkurangnya peredaran rokok illegal juga penting. Operasi gempur rokok illegal yang kita lakukan tidak akan pernah berhenti. Berdasarkan survey UGM, peredaran rokok illegal 2018 secara nasional sebesar 7.04%, maka Menteri Keuangan Sri Mulyani di 2019 ini minta peredaran dapat ditekan menjadi maksimal 3%. Untuk memenuhi target ini saya minta seluruh jajaran Bea Cukai Jateng DIY khususnya agar bersinergi dengan semua pihak dalam melakukan pemberantasan rokok illegal secara terus menerus dan berkelanjutan”, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *