FasilitasPenerimaanPengawasan

Lampaui Target 2019, Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp40.2 Triliun

Semarang (8/1/2020) – Hingga 31 Desember 2019 Bea Cukai Jateng DIY telah berhasil mengumpulkan pundi-pundi penerimaan Negara sebesar Rp40.2 Triliun. Penerimaan ini mencapai 102.93% dari target yang ditetapkan sebesar Rp39.05 Triliun. Jika dibandingkan dengan tahun 2018 maka capaian ini naik sebesar Rp1.1 Triliun atau tumbuh 2.85% (yoy). “Meskipun terasa berat mengejar target yang ditetapkan, namun pada akhirnya kita berhasil mencapainya bahkan melampauinya meski hanya Rp1.1 Triliun. Kita harus bersyukur terutama karena surplus penerimaan Cukai dapat mengcover shortfall penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar”, demikian disampaikan Padmoyo Tri Wikanto, Kepala Kantor Wilayah DJBC Jateng dan DIY pada Rabu 8 Januari 2020 di kantornya.

Angka Rp40.2 Triliun yang berhasil dikumpulkan terdiri dari penerimaan Bea Masuk, Bea Keluar dan Cukai.  Realisasi penerimaan Bea Masuk sebesar Rp2.1 Triliun atau hanya 97.04% dari target sebesar Rp2.13 Triliun. Realisasi penerimaan Bea Keluar sebesar Rp84.4 Miliar atau 79.65% dari target sebesar Rp105.9 Milyar. Sedangkan realisasi penerimaan Cukai mencapai Rp38 Triliun atau 103.34% dari target sebesar Rp36.8 Triliun.

Kakanwil Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto

Tri selanjutnya membeberkan kinerja masing-masing jenis penerimaan. “Bea Masuk mencapai 97.04% sudah bagus mengingat kegiatan impor juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Turunnya devisa impor, menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD dan penurunan tariff rata-rata juga mengakibatkan penurunan penerimaan bea masuk. Penurunan tariff antara lain ditandai dengan yang naiknya jumlah importasi yang menggunakan tariff preferensi dalam skema ACFTA, dimana pembebanan tariff bea masuk sebagian besar produknya menjadi sebesar 0%. Peningkatan utilitas skema ACFTA ini mencapai 1.75% dibanding tahun sebelumnya (yoy) ”, bebernya. Tri juga menambahkan bahwa tidak tercapainya target bea keluar antara lain disebabkan turunnya volume ekspor produk veneer yang merupakan produk penyumbang bea keluar terbesar di Jateng DIY. Angka penurunannya mencapai 16.2% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk cukai yang merupakan kontributor dominan penerimaan cukai Jateng DIY berhasil mencapai target sebesar 103.34%. Surplus Rp1.2 Triliun dari Cukai mampu menambal kekurangan pada Bea Masuk dan Bea Keluar. “Pencapaian ini dipengaruhi oleh naiknya volume produksi Hasil Tembakau sebesar 2.52% yang mengakibatkan naiknya penerimaan Cukai Hasil Tembakau sebesar 2.73% jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu juga dipengaruhi oleh dampak positif dari operasi gempur rokok illegal yang masif dilakukan, bahkan pada akhir November 2019, Bea Cukai berhasil melakukan penindakan terhadap Pabrik Rokok berikut mesin pembuatnya”, pungkas Tri. Selain penerimaan Rp40.2 Triliun di atas, juga terdapat Pajak Dalam Rangka Impor yang dipungut melalui Bea Cukai Jateng DIY namun menjadi penerimaan Direktorat Jenderal Pajak. Penerimaan tersebut mencapai Rp10.83 Triliun yang terdiri dari PPN Impor Rp7.59 Triliun, PPh Impor Rp3.23 Triliun dan PPnBM Impor Rp862 Juta. Disamping itu juga ada Pajak Daerah berupa Pajak Rokok yang dipungut bersamaan dengan pembayaran Cukai Hasil Tembakau. Pajak Rokok di Jateng DIY juga signifikan yaitu mencapai Rp.3.65 Triliun. Tumbuh 2.7% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp.3.56 Triliun.

Comment here