FasilitasPenerimaanPengawasan

Bea Cukai Jateng DIY Akan Berikan Fasilitas Fiskal Kepada Perusahaan Yang Ingin Berkembang Cepat

Semarang (11/02) – Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan fasilitas fiskal kepada perusahaan yang ingin berkembang lebih cepat. Hal tersebut diutarakannya dalam program Kabar Enjang TVRI Jawa Tengah pada Selasa, 11 Februari 2020. Dialog dengan topik “Mengenal Bea Cukai Lebih Dekat” tersebut disiarkan secara langsung dari Studio TVRI Jawa Tengah Pucang Gading, Semarang. Dalam dialog yang dipandu oleh Andreas Yulianto selaku presenter program Kabar Enjang tersebut membicarakan tentang banyak hal mulai dari kewenangan Bea dan Cukai, tarif cukai rokok hingga masalah investasi di Jawa Tengah.

Tri dalam kesempatan tersebut memaparkan langkah Bea Cukai dalam mendorong investasi dan ekspor khususnya di Jawa Tengah. Pemerintah melalui Bea Cukai akan memberikan fasilitas fiskal kepada perusahaan agar berkembang lebih cepat. Fasilitas tersebut antara lain berupa penangguhan atau pembebasan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor tidak dipungut atas importasi bahan baku untuk produksi. Perusahaan tidak perlu membayar jika hasil produksinya di ekspor. “Kita galakkan ekspor, investasi akan kita masukkan, kita bisa serap lapangan pekerjaan, sektor riil bergerak, industri pendukung maju, sehingga ekonomi tumbuh, dan Bea Cukai akan ada untuk mendukung itu semua”, jelasnya.

Andreas nampaknya penasaran dengan tugas Bea dan Cukai. Selain berkaitan dengan impor dan ekspor ternyata Bea Cukai juga punya peran dalam masalah investasi. Menanggapi hal tersebut Tri kemudian menyebutkan bahwa tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai itu ada Revenue Collector, Industrial Assistance, Trade Facillitator, dan Community Protector. “Bea Cukai sebagai pemungut pajak diantaranya Bea Masuk, Bea Keluar dan Cukai, kemudian bagaimana kita mendampingi industri untuk bisa bersaing di pasar global dengan insentif fiskal di dalamnya sehingga industri bisa tumbuh, kemudian kami juga memfasilitasi perdagangan sehingga arus barang dan arus dagang antar negara bisa lancar dan terakhir kami juga melindungi masyarakat dari masuknya barang ilegal, berbahaya seperti narkoba, pakaian bekas dan lain-lain”, jelasnya.

Mengingat harga rokok di pasaran mengalami kenaikan cukup tinggi, Andreaspun menanyakan beberapa hal terkait kenaikan tarif cukai rokok sebanyak 23 persen di tahun 2020. “Dengan kenaikan tariff yang tinggi, apakah ada kemungkinan atau justru membuka celah orang akan beralih mengonsumsi rokok ilegal sehingga akan menyuburkan industri rokok illegal. Dimana peran Bea Cukai disini?”, tanyanya. Tri menjelaskan bahwa cukai dikenakan terhadap barang yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. “Dengan kenaikan tarif cukai rokok itu sebenarnya kita berharap konsumsi rokok tersebut berkurang, dengan begitu maka orang-orang jadi mikir dua kali karena harga rokok mahal sehingga akan mengurangi konsumsi terhadap rokok”, jelasnya. Akibat kenaikan tarif cukai rokok ini memang dampaknya akan ada masyarakat yang mencari rokok dengan harga murah sehingga peredaran rokok ilegal juga akan tumbuh, langkah dari Bea Cukai adalah dengan operasi Gempur Rokok Ilegal yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2019. “Kita tidak hanya di sisi pasar, tapi produsen atau pabriknya juga akan kita gempur. Kita terus melakukan penindakan terhadap peredaran rokok illegal bersama-sama instansi lain”, jelasnya. Selain dengan penegakan hukum, Tri juga menegaskan bahwa pihaknya akan bekerja sama  dengan seluruh pihak terkait dalam melakukan langkah pencegahan antara lain melakukan sosialisasi dengan pendekatan eco-socio-cultural.

Pewarta: Ahmad Farid

Comment here