Penerimaan

Bea Cukai Jateng DIY Siap Setor Rp44.36 Triliun Ke Kas Negara Di 2020

Semarang (26/2/2020) – Setelah berhasil mengumpulkan pundi-pundi keuangan ke kas negara sebesar Rp40.2 Triliun pada 2019 kemarin, kini di 2020 Bea Cukai Jateng DIY diberi target untuk mengumpulkan penerimaan sebesar Rp44.36 Triliun. Target ini naik 13.58% dari target 2019 yang sebesar Rp39.06 Triliun, atau naik senilai Rp5.31 Triliun. Bea Cukai harus siap bekerja keras, bekerja cerdas dan berintegritas untuk mencapai target yang diberikan. Negara membutuhkan peran optimal Bea Cukai tidak hanya di sektor Cukai yang menjadi andalan penerimaan Jateng DIY, namun juga di sector pebean yaitu terkait Bea Masuk dan Bea Keluar. Demikian disampaikan Kepala Kantor Wilayah DJBC Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto di kantornya pada Selasa 25 Februari 2020.

Lebih lanjut Tri menyampaikan bahwa target Rp.44.36 Triliun tersebut mempunyai porsi sekitar 20% dari target nasional. Penerimaan yang menjadi andalan di Jateng DIY adalah Cukai dimana porsinya mencapai 94.72% dari total target atau sebesar Rp42.02 Triliun, sedangkan Bea Masuk sebesar Rp2.25 Triliun atau  5.07% dan Bea Keluar sebesar Rp0.09 Triliun atau 0.2% dari target. Tri kemudian menginformasikan bahwa secara keseluruhan, target Rp44.36 Triliun ini didistribusikan ke 9 (Sembilan) KPPBC di wilayah Jateng dan DIY yang meliputi KPPBC Kudus, KPPBC Tanjung Emas, KPPBC Semarang, KPPBC Surakarta, KPPBC Yogyakarta, KPPBC Magelang, KPPBC Tegal, KPPBC Purwokerto dan KPPBC Cilacap. KPPBC Kudus merupakan kontributor terbesar sehingga diberikan target terbesar yaitu Rp35.9 Triliun atau 80% dari total target.

Terkait dengan strategi yang akan dilakukan dalam mencapai target tersebut, Tri tak segan-segan membeberkannya. “Penerimaan Jateng DIY ini 80% dari Cukai dan didominasi oleh cukai hasil tembakau. Tentu fokus kami ada di sektor ini. Menjaga iklim usaha yang kondusif bagi pengusaha menjadi salah satu caranya. Maksudnya Negara akan hadir untuk mereka para pengusaha rokok legal dengan memberantas peredaran rokok illegal dari hulu sampai hilir. Tentu kami akan bersinergi dengan seluruh pihak terkait seperti Pemerintah Daerah, Aparat Penegak Hukum seperti TNI, POLRI dan Kejaksaan, serta masyarakat. Disamping itu kami juga akan menggencarkan upaya sosialisasi antara lain dengan pendekatan ekonomi, social dan budaya”, bebernya.

Tri selanjutnya menambahkan bahwa meskipun pihaknya fokus pada penerimaan Cukai, namun akan tetap berupaya maksimal terkait penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar seperti kondisi ekonomi global yang berkaitan erat dengan naik turunnya nilai mata uang, volume impor ekspor dan nilai devisa. Belum lagi terkait dengan tren peningkatan penggunaan skema Free Trade Agreement dalam importasi. Faktor-faktor tersebut akan terus dimonitor dan dikelola dalam upaya pencapaian target penerimaan.

Comment here