PelayananPengawasan

Tingkatkan Pelayanan dan Pengawasan, Bea Cukai Terapkan Sistem Analisis Risiko Importasi Baru

Semarang (25/02) – Mulai 1 November 2019 Bea Cukai telah mengaplikasikan Sistem Analisis Importasi baru. Untuk memastikan mekanisme kerja risk engine dan tools-nya dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh kantor di lingkungan Jateng DIY, maka pada Senin, 24 Februari 2020 dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penetapan Jalur Impor bertempat di ruang rapat Kepala Kanwil Bea Cukai Jateng DIY. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, KPPBC Tanjung Emas dan KPPBC Cilacap.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Moch. Arif Setijo Noegroho menyampaikan beberapa hal terkait sistem penjaluran impor yang baru. “Pada awalnya penetapan jalur impor di Bea Cukai menggunakan 2 parameter manajemen risiko yaitu profil importir dan profil komoditi. Namun seiring berjalannya waktu dan melihat best practice di berbagai negara yang menggunakan banyak sekali parameter, maka perlu penyesuaian. Risk engine ini betul-betul kompleks,” ujarnya. Arif juga menyampaikan pesannya agar sistem ini dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada importir sekaligus pengawasan yang optimal, serta dapat menaikkan hit rate.

Sementara itu Kepala Seksi Pengendalian Mutu Sistem Informasi Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai M. Rofiudzdzikri menyampaikan bahwa mekanisme penetapan jalur dalam rangka pelayanan dan pengawasan impor yang telah diimplementasikan mulai 1 November tahun lalu ini menggunakan sistem analisis risiko yang baru dan menuntut peran aktif dari semua unit terkait. Sistem analisis risiko yang digunakan memiliki 5 sub-sistem yang terdiri dari Sistem Analisis Risiko Targeting, Pelanggaran Current, AEO dan MITA, Reguler dan Acak. “Kedepan tidak ada istilah profil importir jalur hijau, jalur merah dan jalur kuning, kedepan yang ada adalah penjalurkan berdasarkan hasil dari analisis risiko yang menghasilkan skor sehingga menentukan kategori high risk, low risk atau medium risk”, jelasnya. Rofiudzdzikri selanjutnya memaparkan terkait mekanisme kerja dari system yang baru ini. Dengan kegiatan ini diharapkan kepada seluruh pegawai terkait dapat memahami mekanisme kerja ris engine dan dapat memanfaatkan tools risk engine secara optimal guna memberikan pelayanan yang lebih baik kepada importir dan pengawasan yang lebih optimal untuk Bea Cukai yang makin baik.

Comment here