Penerimaan

Hingga Februari 2020, Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp5.52 Triliun Ke Kas Negara

Semarang (10/3/2020) – Hingga Februari 2020, Bea Cukai Jateng DIY berhasil mengumpulkan Rp5.52 Triliun pundi-pundi penerimaan Negara. Secara keseluruhan angka ini memang baru 12.46% dari total target 2020 sebesar Rp44.36 Triliun. Namun demikian secara proporsional (target s.d. 29 Februari 2020) penerimaan tersebut telah mencapai 116.77% dari target sebesar Rp4.73 Triliun s.d. 29 Februari 2020..

Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, Nur Rusydi dalam paparannya pada Senin 9 Maret 2020 dalam Dialog Kinerja Organisasi di ruang rapat Kakanwil, mengatakan bahwa realisasi penerimaan s.d. Februari 2020 ini merupakan penerimaan tertinggi dalam periode yang sama selama 4 tahun terakhir, dan jika dibandingkan dengan tahun 2019 (y.o.y) maka mengalami pertumbuhan sebesar 52.74% atau setara Rp1.91 Triliun. Pertumbuhan ini sebagian besar dikontribusi oleh penerimaan Cukai Hasil Tembakau sebagai efek dari penundaan pembayaran cukai 4 minggu terakhir tahun 2019 yang berimbas pada pembayaran di awal tahun 2020 sebesar Rp4.9 Triliun. Secara total penerimaan Cukai telah mencapai Rp.5.23 Triliun atau 119.84% dari target proporsional.

Penerimaan Bea Masuk mencapai Rp273.71 Milyar atau 77.63% dari target proporsional. Adapun penerimaan Bea Keluar mencapai Rp15.59 Milyar atau 152.60% dari target proporsional. Kedua penerimaan tersebut terkait dengan kinerja impor dan ekspor yang akan sangat dipengaruhi oleh situasi perekonomian global. Lesunya perekonomian global beberapa waktu terakhir ini seolah belum berpihak pada Indonesia. Dimulai dengan perang dagang 2 negara raksasa ekonomi yaitu Amerika dan China, kemudian disusul dengan wabah corona atau virus Covid-19 yang meskipun terjadi di China namun imbasnya mempengaruhi kinerja ekonomi dunia, tak terkecuali Indonesia. Belum juga reda, kini tekanan ekonomi global kembali terjadi sebagai akibat perang dagang minyak yang dikobarkan Arab Saudi dan Rusia. Pasar komoditas minyak mentah dunia kembali bergejolak. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh semua pihak terutama terkait impor dan ekspor, dimana pada akhirnya akan mempengaruhi APBN.

Penerimaan Bea Cukai Jateng DIY didominasi oleh penerimaan Cukai yaitu mencapai 94.72% dari total target atau sebesar Rp42.02 Triliun. Dari angka tersebut, 80%nya merupakan penerimaan Cukai Hasil Tembakau. Fokus pada pencapaian target Cukai Rokok menjadi salah satu strategi mengamankan target hingga akhir 2020 nanti. Strategi tersebut inline dengan arahan Menteri Keuangan agar menekan peredaran rokok ilegal hingga 1% di 2020. Jika berhasil maka target akan tercapai. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi dan penegakan hukum. Kedua upaya tersebut telah dan akan terus dilakukan secara massif dan bersinergi dengan seluruh pihak terkait seperti Pemda, TNI, POLRI, Kejaksaan dan masyarakat. Upaya terobosanpun dilakukan dengan menawarkan konsep solusi berupa pembangunan Kawasan Industri Kecil Hasil Tembakau Terpadu (KIK HTT) yang bertujuan untuk mengakomodasi dan merangkul pengusaha rokok yang tadinya ilegal menjadi legal. Dalam konsep ini, pengusaha rokok tidak lagi dibatasi dengan aturan luasan pabrik, bahkan akan disediakan mesin produksi rokok yang dapat digunakan secara bersama, dan nantinya akan disediakan industri pendukung seperti lem, kertas, kemasan, filter dan sebagainya.

Comment here