Lain-lain

ASN Harus Melek Investasi. Inikah Saatnya Memulai?

Semarang (22/05) – Menutup rangkaian Parade Sosialisasi dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan wawasan pegawai Bea Cukai di tengah Wabah COVID19, Kantor Pusat DJBC menggelar sosialisasi daring (melalui Video Conference) bertajuk ASN Melek Investasi, dengan mengundang narasumber Kemas Rumaiyar dari Bursa Efek Indonesia pada 20 Mei 2020.

“Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Saham merupakan instrument investasi yang memiliki Nilai Return paling tinggi diantara instrument investasi lain seperti emas, reksa dana, obligasi dsb. Namun banyak masyarakat Indonesia memandang negatif Investasi Saham dikarenakan sifatnya yang High Return-High Risk. Akan tetapi, seperti yang disampaikan Warren Buffett, Risk comes from not knowing what you’re doing, maka sebelum terjun ke dunia Investasi Saham, diperlukanlah pembelajaran”, ucap Kemas membuka paparannya.

Kemas yang merupakan Kepala Unit Capital Market Inclusion Bursa Efek Indonesia, mengungkapkan bahwa investor lokal di Pasar Modal Indonesia masih rendah. Hal itu terjadi karena masih banyak opini negatif tentang Investasi Saham di masyarakat, seperti tingginya resiko investasi saham sebagai penyebab utamanya, membutuhkan modal yang besar, investasi saham dianggap berjudi, memerlukan pengetahuan dan waktu untuk mendalaminya, dan tidak paham dengan cara bertransaksinya. “sangat keliru bila masyarakat Indonesia menilai berinvestasi di Pasar Modal memiliki risiko yang tinggi. Risiko tinggi bukan diukur saat harga saham jatuh tetapi justru saat perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut”, ujar Kemas.

Kemas juga berbagi tips dalam memilih atau memulai berinvestasi saham, yakni memperhatikan Keberlangsungan Perusahaan. Keberlangsungan Perusahaan adalah bagaimana eksistensi perusahaan itu di masa depan. Contoh sederhananya seperti di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah kendaraan bermotor, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang bergerak di industri produksi kendaraan bermotor kedepan akan meningkat nilai perusahaannya. Kemudian tips yang kedua adalah pandai dalam melihat momentum. Selama kurun waktu 30 tahun (1990 – 2020) nilai IHSG pernah mengalami penurunan tajam sebanyak 4 kali, dan semua itu disebabkan oleh event besar didunia, seperti krisis ekonomi dunia 2008, perang dagang dsb. Maka saat itulah waktu yang tepat memulai investasi saham.

“Sekarang ini, dunia sedang dilanda wabah COVID19, dan sudah terlihat dampaknya pada perekonomian dunia, mungkinkah Wabah COVID-19 ini menjadi momentum untuk investasi Saham?” pungkas Kemas.

Comment here