FasilitasLain-lainPelayanan

KPK di Talk Show Bea Cukai : Jadikan Pemalsuan Dokumen Sebagai Korupsi Dalam Undang-Undang Kepabeanan

Semarang, 7 Desember 2018 – Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menjadi Narasumber dalam Talk Show di acara Hari Anti Korupsi yang diselenggarakan Kanwil Bea Cukai Jateng dan DIY. Selain dihadiri wakil Ketua KPK, juga dihadiri Direktur Fasilitas Kepabeanan yang juga WCO Integrity Expert, Oentarto Wibowo, dan Nugroho Wahyu Widodo selaku Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Kepabeanan dan Cukai. Talk Show yang dibuka Kakanwil Bea Cukai Jateng dan DIY, Parjiya ini mengusung tema “Menuju Bea Cukai Bebas Dari Korupsi”. Parjiya menyampaikan amanah dari Dirjen Heru Pambudi mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran karena bea cukai menduduki peringkat ke-3 dalam SPI yang dilakukan KPK. Perjiya berharap agar para narasumber memberikan motivasi karena bekerja di bea cukai dan pajak godaanya, dinamikanya luar biasa.

Dihadapan seluruh pejabat dan pegawai Bea Cukai yang hadir, Alexander bicara tentang pemberantasan korupsi di Indonesia. Terkait Bea Cukai, Alexander menyampaikan bahwa sampai dengan saat ini masih ada pengaduan tentang Bea Cukai. Slogan anti korupsi boleh tapi jangan seperti kampanye. Perlu diketahui bahwa yang terkena OTT itu rata-rata pernah mengundang KPK, contohnya adalah Bengkulu, Jambi, Aceh dll. Kami mengusulkan agar pemalsuan dokumen terutama terkait impor agar dimasukkan sebagai korupsi jika nanti ada revisi Undang-Undang Kepabeanan. Pemalsuan Invoice dan dokumen impor lainnya itu memang dari awal sudah diniatkan untuk korupsi. Di Pajak juga gitu, pemalsuan faktur pajak itu juga memang diniatkan untuk korupsi, untuk restitusi misalnya. Saya juga menyarankan agar bea cukai melakukan penolakan gratifikasi sejak dini. Mengakhiri pemaparannya, Alexander mengatakan bahwa “Masalah terbesar pemberantasan korupsi di Indonesia adalah tidak adanya komitmen dan integritas pimpinan”.

Oentarto bicara integritas. Nggak KKN itu keren. Integritas itu mengerjakan yang benar meskipun tidak ada yang melihat. “Ini penting buat Bea Cukai karena Bea Cukai ngurusin hajat hidup orang banyak”, tegasnya. Dipaparkan juga tentang budaya jujur, contoh-contoh karakter baik yang perlu ditiru. Masih maraknya korupsi di Indonesia itu bukan karena penjahatnya kuat atau besar, tapi karena masih banyaknya orang baik yang diam saja. Oentarto mengajak agar jajaran bea cukai bersama-sama berpartisipasi. “Mawas diri, tidak tunjuk hidung, turut bertanggung jawab, perlu bersama-sama (lebih dari sekampung), mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga”, ajaknya.

Sementara Noegroho memberi catatan penting, “camkan satu kata, peduli”. Banyak orang tak mempunyai rasa peduli. Banyaknya korupsi itu juga karena banyak diantara kita yang tidak peduli. Saat anda menunda-nunda pengeluaran barang, di luar sana ribuan buruh menanti. Saat anda mempersulit dan mengakibatkan perusahaan bangkrut, anda bertanggung jawab. Noegraha menambahkan bahwa sekarang bea cukai sudah makin baik. Dulu orang ga terima uang itu dianggap aneh (uang tidak jelas), tapi lihat sekarang malah sebaliknya, orang terima uang itu aneh. “Mari kita peduli. Sukses itu jika kita peduli dan bermanfaat”, pungkasnya.

Comment here