Lain-lain

Seminar APBN Kemenkeu Jateng, Tetap Aja Urusan Naiknya Harga Rokok Jadi Bahasan

SEMARANG (29/10) – Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Tengah mengadakan seminar APBN pada hari Senin 28 Oktober 2019, di Aula GKN II Semarang. Selain mengundang nara sumber dari perwakilan tiap unit Eselon II di Semarang juga mengundang Akhmad Syakir Kurnia dari Universitas Diponegoro. Sementara peserta seminar terdiri dari stake holder Kementerian Keuangan di Jawa Tengah.

Di tengah acara seminar munculah diskusi yang cukup seru.  Permasalahan yang didiskusikan antara lain terkait masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya membayar pajak untuk keberlangsungan sebuah Negara. Namun di sisi lain nara sumber yang juga ekonom Akhmad Syakir Kurnia menanggapi bahwa bicara masalah kesadaran sudah bukan waktunya lagi. Dia mengatakan bahwa saat ini mestinya sudah mulai memikirkan cara mengumpulkan pajak secara sistemik sebagaimana dipraktikkan di Negara-negara maju. “di negara maju kami yang bekerja sambil kuliahpun tidak dapat menghindar dari pajak. Jadi begitu besarnya rasio pajak di Negara itu. Tapi Negara juga fair, ketika pada akhirnya total pendapatan kita tidak wajib pajak, maka dikembalikan kepada kita. Kita harus bisa seperti itu”, jelasnya.

Topik diskusi lainnya juga tak kalah seru. Menariknya, meskipun seminar ini mengusung tema pengelolaan APBN namun ada pembahasan terkait kenaikan harga rokok. Memang masih berhubungan sih dengan penerimaan Negara, namun terkesan sedikit keluar dari topic pembahasan. Adalah Arif peserta seminar yang menanyakan kepada Parjiya Kepala Kanwil DJBC Jateng DIY selaku narasumber dari Bea Cukai. “Pak, saya dengar harga rokok akan naik hingga 100% di pasaran. Apakah tidak kontra produktif dengan penerimaan. Belum nanti ada PHK, PT Djarum tidak bisa mencetak atlit bulu tangkis, dll ?”, tanyanya yang disambut dengan riuh rendah tawa peserta seminar.

Menanggapi pertanyaan tersebut Parjiya lantas memberikan beberapa penjelasan. “Kenaikan itu telah mempertimbangkan banyak aspek yang sedapat mungkin memenuhi keadilan bagi semua pihak. Tidak hanya mempertimbangkan kepentingan penerimaan, tapi juga kesehatan, industry, tenaga kerja dan petani. Dewasa ini pengguna rokok anak-anak dan wanita meningkat. Ini perlu dikendalikan konsumsinya. Justru cukai ini sebagai instrument pengendalian. Negara wajib hadir dalam kondisi seperti ini. Disamping itu harga eceran rokok di pasaran juga telah melebihi HJE yang telah ditetapkan, serta tahun kemarin tidak ada kenaikan tariff cukai hasil tembakau”, jelas Parjiya.

Pelaksanaan Seminar APBN ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada stake holder / masyarakat dalam pengelolaan APBN. Pentingnya APBN yang kuat, pentingnya kesadaran dan ketaatan masyarakat dalam membayar pajak menjadi kunci utama kuatnya APBN. Dengan APBN yang kuat maka keberlangsungan hidup sebuah Negara dapat terjamin.

Comment here