Lain-lain

“Warak Ngendhog” Turut Meriahkan kemenkeu Mengajar 4 Semarang

SEMARANG (6/11) – Memasuki Aula KPPBC Tanjung Emas pada acara refleksi Kemenkeu Mengajar Ke-4 Semarang pada Senin 4 November 2019, kita akan langsung berhadapan dengan benda menyerupai boneka besar yang berbentuk seperti hewan namun tidak jelas hewan apa. “Itu adalah symbol warak ngendhog yang merupakan salah satu ikon Semarang”, demikian ungkap Selfi Koordinator Bidang Acara dalam Kepanitiaan Daerah Kemekeu Mengajar wilayah Semarang.

Selfi lantas menambahkan bahwa warag ngendhog ini juga merupakan symbol pemersatu. “Secara filosofi warak ngendhog ini mengandung arti suci dan sebagai symbol akulturasi, sehingga sejalan dengan salah satu misi dari kegiatan Kemenkeu Mengajar yaitu mengajarkan tentang keberagaman, toleransi dan persatuan”, ungkapnya.

Menurut beberapa sumber seperti idwikipedia.org disebutkan bahwa Warak ngendhog (bahasa Indonesia: badak bertelur) (bahasa Jawa: ꦮꦫꦏ꧀​ꦔꦼꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧀, translit. Warak ngendhog) adalah mainan yang selalu dikaitkan dengan perayaan Dugderan, suatu festival rakyat di Kota Semarang, Jawa Tengah yang diadakan di awal bulan Ramadan untuk menyambut, memeriahkan, sekaligus sebagai upaya dakwah.

Kata “warak” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang bermakna ‘badak’. Namun demikian, pendapat lain mengatakan “warak” berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘suci’. Dan ngendhog (bertelur) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, warak ngendhog dapat diartikan: siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadan, kelak di akhir bulan akan menerima pahala pada hari lebaran.

Warak ngendhog aslinya memang hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud hewan. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan akulturasi/ persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang yaitu etnis Cina, etnis Arab dan etnis Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga khas kebudayaan dari etnis Cina. Tubuhnya berbentuk layaknya unta khas kebudayaan dari etnis Arab. Keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas kebudayaan dari etnis Jawa.

Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendhog ini mengandung arti filosofis mendalam. Dipercayai bentuk lurus itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya. Tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan.

Comment here