Penerimaan

Hingga Oktober 2019, Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp28.7 Triliun Ke Kas Negara

Semarang (11/11/2019) – Bea Cukai Jateng DIY s.d. 31 Oktober 2019  telah berhasil mengumpulkan pundi-pundi penerimaan Negara sebesar Rp28.72 Triliun. Penerimaan ini baru mencapai 71.06% dari target yang ditetapkan sebesar Rp40.4T. Meskipun demikian secara proporsional (target s.d. Oktober 2019), jumlah tersebut telah mencapai 98.28% dari target proporsional sebesar Rp.29.2T. “Kami akan terus berusaha agar target penerimaan dapat tercapai di akhir tahun nanti”, demikian paparan Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, M Hakim Satria pada Kamis 7 November 2019 pada rapat DKO di ruang rapat Kakanwil.

Hakim selanjutnya menguraikan capaian penerimaan tersebut mulai dari bea masuk, bea keluar hingga cukai.  Angka Rp28.72T ini terdiri dari bea masuk sebesar Rp1.73T, bea keluar sebesar Rp73.66 Miliar, dan cukai sebesar Rp26.9T. Pencapaian bea masuk baru mencapai 81.21% dari toral target sebesar Rp2.13T. Bea keluar mencapai 69.54% dari total target sebesar Rp105.93M. Sedangkan Cukai mencapai 70.50% dari total target sebesar Rp38.17T.

Kendala pencapaian yang dihadapi sampai dengan saat ini terkait penerimaan bea masuk adalah meningkatnya penggunakan importasi dari China yang menggunakan tariff preferensi dalam skema ACFTA, dimana pembebanan sebagian besar produknya adalah sebesar 0%. Untuk bea keluar saat ini terkendala dengan menurunnya volume ekspor produk veneer yang merupakan produk penyumbang bea keluar terbesar sehingga mempengaruhi kinerja penerimaan bea keluar. Sedangkan untuk cukai, seperti diketahui bersama bahwa penerimaan cukai Jateng DIY didominasi Cukai Hasil Tembakau (CHT) dengan prosentase kontribusi sebesar hampir 97%. Belum optimalnya produksi PR.Djarum sebagai penyumbang terbesar CHT menjadi kendala tersendiri. Terdapat kinerja positif dari produksi PR.Noroyono, PR SUKUN dan lainnya namun belum dapat mencover penurunan produksi PR Djarum.

Sementara itu Kepala Kanwil DJBC Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto memberikan arahannya terkait optimalisasi penerimaan tersebut. “Waktu kita tinggal kurang dari 2 bulan. Kekurangan penerimaan harus kita kejar bersama-sama. Kita harus bisa. Tingkatkan extra effort. Buat monitoring room penerimaan. Koordinasi dengan DJP terkait joint program akan kita intensifkan. Tim yang sudah dibentuk segera lakukan langkah konkrit. Kita harus menguasai data, kita tidak boleh tergantung pada informasi terkait jumlah produksi pabrik rokok. Kita yang harus pegang datanya. Gunakan IT. Selain jumlah produksi rokok, kita juga harus tahu tingkat konsumsinya”, demikian arahan Tri.

Comment here