Pelayanan

Ini Kata Dirjen Bea Cukai Pada Pelepasan Ekspor Raya Produk Perikanan Di Teluk Lamong.

SEMARANG (25/11) –  Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi dalam acara pelepasan ekspor raya produk perikanan pada Jumat 22 November 2019 di Teluk Lamong, Gresik Jawa Timur menyampaikan pesan-pesan penting berkaitan dengan kebijakan dalam memperkuat sinergi Kementerian Keuangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Meskipun Heru menyampaikan di depan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di Jawa Timur, namun pesan tersebut tersiar luas karena ekspor raya ini juga terhubung melalui Video Conference dengan 7 lokasi lainnya dimana salah satunya adalah BKIPM Semarang.

Heru yang hadir mewakili Menteri Keuangan bersama Mochamad Agus Rofiudin selaku Kepala Lembaga National Single Window (LNSW) menyampaikan informasi bahwa ada 3 kebijakan / pilar yang akan dilaksanakan di awal tahun 2020. “Kebijakan yang pertama adalah program Single document / single submission. Nantinya pengguna jasa kalau mau ekspor dan impor tidak perlu lagi datang ke Bea Cukai sendiri, ke Karantina Hewan sendiri, ke Karantina Ikan sendiri, ke Karantina tumbuhan sendiri. Dokumennya nanti cukup 1 saja secara elektronik diposting ke NSW”, jelasnya. Heru menambahkan bahwa setelah single document maka kegiatan analisis dan verifikasi juga dilakukan bersama-sama. Menggunakan single reference, profil bersama-sama.  Selanjutnya terkait keputusanpun bersama-sama. “Keputusan ada 2 opsi. Langsung clearance atau periksa fisik dahulu. Nah kalau perlu dilakukan periksa fisik maka dilakukan Bersama-sama. Tidak seperti sekarang masing-masing melakukan pemeriksaan secara terpisah. Nanti Desember ujicoba di Belawan, segera setelahnya kalau bagus, InsyaAllah Januari diterapkan secara nasional”, sambungnya.

“Yang kedua, dulu ekspor tidak bisa langsung dari daerah masing-masing, sekarang anytime every where. Contohnya sekarang Ambon tercatat sebagai daerah yang ekspornya / PEBnya naik berlipat-lipat karena sudah melakukan ekspor secara langsung dari Ambon yang sebelumnya melalui Surabaya. Ini akan menambah PAD daerah pengekspor. Kami juga sangat merindukan tumbuhnya Kawasan Berikat atas produk perikanan. Di Bitung, Makasar sebagai pusat pengolahan ikan yang kita kasih insentif semua bahan baku / machinery yang diperlukan utk processing kita kasih fasilitas dan kita harapkan utk bisa ekspor, kita ready 7×24 jam, anggota kami siap memberikan dukungan”, tambahnya.

“Barangkali yg terakhir, Kita juga memimpikan sinergi lanjutan di pelabuhan termasuk dalam rangka pembenahan kantor-kantor kami di daerah sentra perikanan baru. Biasanya kami masing-masing. Ini ada potensi pengembangan daerah misalnya pelabuhan bajo. Kami berpikir bagaimana mengembangkan kantor kami sendiri. Saya yakin karantina juga memikirkan hal yang sama. Intinya adalah bagaimana urusan kepelabuhanan kita jadikan 1 saja, kita bangun bersama, meskipun disitu ada Customs, Imigration and Quarantine (CIQ) tapi terintegrasi. Terima kasih dan selamat atas suksesnya ekspor kita, kami siap dukung 7/24 jam”, pungkasnya.

Comment here