Fasilitas

Investasi Terus Berdatangan, Bea Cukai Jateng DIY Sigap Berikan Asistensi dan Perijinan

Semarang (24/01) – Prediksi para pengamat ekonomi bahwa investasi akan mengalir ke Jawa Tengah semakin nyata terbukti. Investasi terutama di sektor padat karya atau yang menyerap banyak tenaga kerja terus mengalir ke Jawa Tengah. Bukan rahasia lagi kalau faktor yang menarik bagi investor adalah masih rendahnya UMR dibandingkan dengan daerah lain. Jawa Tengah juga dianggap kondusif dari sisi keamanan dan infrastruktur. Mengawali tahun ini saja sudah ada 3 perusahaan yang memperoleh fasilitas fiskal berupa Kawasan Berikat. Setelah sebelumnya PT MAS Silueta Indonesia yang merupakan perusahaan garment, PT Parkland World Indonesia yang merupakan perusahaan alas kaki, kini PT Winners International, perusahaan garment yang memperoleh ijin pada Kamis 23 Januari 2020 di Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, Semarang.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto tidak menyangkal ketika dimintai konfirmasi tentang makin banyaknya perusahaan yang meminta fasilitas fiskal ke pihaknya. “Presiden Jokowi sudah mengeluarkan kebijakan agar investasi dibuka dan segala hambatan dihapus. Bea Cukai tentu mengambil langkah mendukung kebijakan tersebut. Kami mempunyai kebijakan fiskal dan non fiskal sebagai langkah konkritnya”, ujarnya. Tri menjelaskan bahwa Kawasan Berikat menjadi salah satu fasilitas fiskal yang diminati investor. Dalam importasi bahan bakunya mendapat penangguhan Bea Masuk dan tidak dipungut Pajak. Customs clearance juga lebih cepat karena tidak dilakukan pemeriksaan fisik di pelabuhan. Selain cash flow perusahaan terbantu, ini juga berkontribusi pada penurunan dwelling time. Lebih lanjut Tri juga menambahkan bahwa fasilitas non fiskal diberikan melalui kemudahan prosedur, percepatan perijinan, dan pemberian asistensi maksimal serta tidak dipungut biaya.

Daftar UMK 2020 untuk kabupaten/kota di Jateng. (Foto: Humas Pemprov Jateng)

Selain karena faktor fasilitas dari Pemerintah di atas, Jawa Tengah memang saat ini sedang menjadi primadona bagi para investor. Kondusifitas dan infrastruktur tentu faktor pendukung yang penting. Namun yang nyata terlihat adalah adanya disparitas UMR tenaga kerja antar daerah. UMR di Jawa Tengah lebih rendah dari daerah lain. UMK 2020 untuk 35 Kabupaten/Kota mulai Rp.1.74 Juta hingga Rp.2.71 Juta. 23 Kab/Kota masih di bawah Rp.2 Juta seperti Surakarta, Boyolali, Jepara, Tegal, Banjarnegara dll. Bayangkan saja, dengan selisih Rp.2 Juta maka untuk 1000 karyawan, perusahaan mendapat efisiensi sebesar Rp.2 Milyar sebulan. Bagaimana jika 2000, 3000, 10.000 karyawan?.

Direktur PT. Winners International, Shim Won Take

Mengalirnya investasi ke Jawa Tengah ini juga harus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Berdasarkan informasi dampak ekonomi yang disampaikan perusahaan kepada Bea Cukai, maka yang paling jelas terinformasikan adalah penyerapan tenaga kerja. Direktur PT MAS Silueta Indonesia, Anthony Asela Fonseka merencanakan penyerapan tenaga kerja hingga 1083 dalam beberapa waktu ke depan. Perusahaan ini memproduksi garment dengan merk Lbrands, H&M, dll. Sementara Direktur PT Parkland World Indonesia, Park Young Geun merencanakan penyerapan hingga 15.000 karyawan dalam beberapa tahun kedepan. Perusahaan sepatu Adidas ini bahkan siap membawa Indonesia menjadi produsen Adidas nomor 1 di dunia. Sedangkan Direktur PT Winners International, Shim Won Take merencanakan penyerapan tenaga kerja hingga 2000 orang pada 2020 dan menjadi 6000 orang di 2022. Perusahaan ini memproduksi garment dengan merk Polo, DKNY, Columbia, Aeropostale, dll.

Kebijakan Pemerintah diharapkan dapat menciptakan simbiosis mutualisme antara perusahaan, masyarakat dan Negara. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkeadilan.

Comment here