Bersama Pasti BisaTransformasi Kelembagaan

Satukan Perbedaan, di Bea Cukai Jateng DIY, Orang Sunda dan Batak Juga Mahir Karawitan

SEMARANG (5/8) – Kelompok seni karawitan Kanwil DJBC Jateng DIY, “Budaya Cundoko” ikut menyemarakkan acara “Dirjen Menyapa” dan peluncuran buku “Bersama Pasti Bisa”. Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting, youtube streaming dan live IG, pada Rabu 5 Agustus 2020, dan diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Jateng dan DIY dengan tetap memetuhi protokol kesehatan.

Nuansa Jawa menjadi terasa kental dengan alunan suara para sinden dan pemain gamelan beserta perangkatnya. Menurut A.T. Cahyono selaku penanggung jawab tim yang juga Kasi Intelijen pada Bidang Penindakan dan Penyidikan, karawitan Budaya Cundoko memang sering tampil di acara-acara yang diselenggarakan di Kanwil. Tampilnya seni karawitan ini selain untuk nguri-uri budaya juga untuk menginspirasi kaum muda bahwa karawitan tidak kalah menarik dan indah dibanding musik modern. Yang tak kalah penting, Cahyono menyebut bahwa budaya merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa dan dapat menjadi pemersatu atas perbedaan-perbedaan yang ada. Apa yang disampaikan Cahyono tentu bukan sekedar asumsi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan dua pegawai yang notabene berasal dari suku sunda dan batak dalam tim karawitan Budaya Cundoko.

Ghina Padilah, pegawai yang berasal dari Karawang, Jawa Barat (Sunda) terlihat luwes sebagai sinden dan fasih melantunkan tembang-tembang Jawa. Keingintahuan dan ketertarikannya pada kesenian jawa membawanya bergabung dengan tim karawitan. Meski mengaku sedikit kesulitan dalam melafalkan lagu dalam bahasa jawa, namun justru membuatnya tertarik akan makna dalam liriknya. Ghina berpesan kepada para milenial Bea Cukai agar dalam menunjukkan kebebasan berekspresi juga harus memiliki value sehingga selaras dengan peran dan tanggung jawabnya kepada institusi. Lain lagi dengan dengan Daniel Hasiholan Siahaan, pegawai asal Sibolga, Sumatera Utara (Batak Toba). Daniel menguasai alat berupa kenong, salah satu alat penting dalam karawitan. Daniel mengaku awalnya hanya diajak seniornya, namun setelah beberapa lama berlatih akhirnya bisa menguasai dan menikmati karawitan. Daniel menuturkan bahwa bermain karawitan relevan dengan cara bekerja, dimana tidak hanya mampu bekerja secara personal, namun juga harus bisa kolaborasi dengan yang lain sehingga menciptakan harmoni dan mencapai tujuan bersama.

Comment here