Lain-lain

Gandeng Akademisi, Pemprov Jateng Serius Pulihkan Ekonomi

Semarang (01/9) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah gelar Focus Group Discussion (FGD) terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional dengan tema “Analisis Perkiraan dan Antisipasi Perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan III dan IV Tahun 2020”. FGD ini dihadiri oleh pejabat di lingkungan Provinsi Jawa Tengah, instansi di lingkungan Kementerian Keuangan dan para akademisi.

Kegiatan dilangsungkan secara daring pada Senin, (31/8/2020) dengan narasumber Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal, Hidayat Amir, Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB UGM, Mudrajad Kuncoro, Guru Besar FEB Unika Soegijapranata, Andreas Lako, dan Perwakilan dari Worldbank, Adri Poesoro.

Dalam Pembukaannya Penjabat (Pj) sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Herru Setiadhie mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya FGD ini adalah menganilisis langkah strategis yang perlu dilaksanakan pada triwulan ke-3 dan ke-4 agar dapat tumbuh dan bangkit dari keterpurukan.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal, Hidayat Amir

Pandemi telah begitu memukul sektor ekonomi. Hal ini tergambar dari kinerja ekonomi yang menurun tajam, konsumsi terganggu, investasi terhambat, ekspor dan impor terkontraksi serta pertumbuhan ekonomi yang menurun tajam. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF, Hidayat Amir juga mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi hingga -5.3% akibat dari kebijakan restriksi ketat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Bahkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mengalami konstraksi lebih dalam yang mencapai -5.9%.

Jawa Tengah Harus Optimis

Dalam Paparannya Hidayat Amir menyampaikan bahwa Ekonomi Jawa Tengah memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi yang ditopang oleh lapangan usaha industri pengolahan. Selain itu, sebelum pandemi covid-19, secara umum pereknomian Jawa Tengah sudah relatif baik dengan beberapa indikator yang terus menunjukkan perbaikan seperti menurunnya angka inflasi, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Amir juga menjelaskan bahwa pertumbuhan penanaman modal periode 2015-2019 di Jawa Tengah terpantau baik dengan rata-rata realisasi capaian investasi mencapai 100% dari target yang ditetapkan. Ditambah lagi bahwa saat ini Jawa Tengah sedang menikmati bonus demografi dengan komposisi usia produktif mencapai 67% dari total penduduk dengan angkatan kerja sebesar 15,5 juta jiwa.

Sementara itu, mudrajad mengungkapkan strategi yang perlu diambil guna mendorong terselenggaranya pemulihan ekonomi. Ia menyebutnya dengan Strategi COVID. Change, mengubah strategi berusaha, relokasi anggaran, dan strategi bertahan di tengah pandemi, Offer More, tawarkan lebih banyak masker, hand sanitizer, APD, uji rapid/PCR dengan biaya terjangkau, Vary, perbanyak diversifikasi produk dan jasa yang dibutuhkan, Improve, memperbaiki kinerja perusahaan dengan kenali struktur biaya, dan Do it fast & now!, lakukan kini & secepatnya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB UGM, Mudrajad Kuncoro

Di akhir paparannya mudrajad menyampaikan bahwa COVID masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-75. “Kita ingin meluruskan jalannya reformasi yang kenyataannya telah berjalan berkelok-kelok (ke kanan, ke kiri, naik turun), tetapi juga dapat berarti jalan lurus yang seharusnya ditempuh ternyata tidak diikuti. Kebangkitan ekonomi Indonesia sebagai bangsa yang besar dan disegani masih membutuhkan jalan yang panjang, berliku serta banyak lubang. Meski arah jalannya sudah ‘on the right track’ agaknya perlu pindah ke gigi yang lebih tinggi (shifting into the higher gear) mengejar ketinggalan dibanding negara lain,” ungkap Mudrajad.

Kinerja Ekspor dalam Masa Pandemi di Jawa Tengah

Dalam paparannya Mudrajad juga mengungkapkan data mengenai kinerja ekspor di Jawa Tengah. Ditengah penyebaran wabah Covid-19, secara global ekspor di Jawa Tengah mampu tumbuh 4,62% (yoy) pada QI 2020. Komoditas tekstil dan produk tekstil menyumbang pangsa terbesar ekspor non migas dengan proporsi 45,8%, diikuti mebel dan kayu (19%), bahan makanan (6,2%), dan bahan kimia (2%). Sebagai salah satu mata rantai penggerak impor dan ekspor di Indonesia, Bea Cukai terus berkomitmen untuk memberikan performa terbaik guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Comment here