Transformasi Kelembagaan

Karawitan Budaya Chundoko Sebagai Instrumen Sosialisasi Kepabeanan dan Cukai

Semarang (07/09/2020) – Bea Cukai Jateng DIY memiliki kelompok Karawitan Budaya Chundoko yang tetap lestari meskipun telah silih berganti anggotanya. Kesenian Karawitan Budoyo Chundoko telah menjadi ciri khas Bea Cukai Jateng DIY. Kakanwil Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto, pada acara arahan kakanwil dan pisah sambut pejabat mutasi, 4 September 2020, menegaskan bahwa Bea Cukai Jateng DIY tidak hanya sekedar melestarikan budaya Jawa saja, namun lebih dari itu, Karawitan Budaya Chundoko memiliki fungsi sebagai salah satu instrumen sosialisasi kepabeanan dan cukai dengan pendekatan eco-sosio-cultural.

Pendekatan melalui Karawitan Budoyo Chundoko dirasa tepat dengan budaya bermasyarakat di Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta. “Karawitan Budoyo Chundoko, adalah bentuk peran serta Bea Cukai dalam melestarikan budaya di Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta, selain itu juga sebagai salah satu instrumen sosialisasi kepada masyarakat yang lebih merasuk, karena karawitan sejatinya adalah sarana komunikasi di masyarakat Jawa”, ujar Tri.

Karawitan merupakan salah satu seni musik tertua di tanah Jawa, terutama di Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta. Kesenian musik dengan gamelan ini, berasal dari kata “rawit” atau “ngrawit” yang bermakna kecil, halus atau rumit. Sehingga dapat dikatakan bahwa Karawitan adalah kesenian musik gamelan yang memiliki sifat – sifat halus, rumit dan indah. (Soeroso; 1985:1986)

Pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat Jawa dimasa lalu, Karawitan memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif, baik secara vertical maupun horizontal. Dalam konteks vertical, karawitan dijadikan sarana berkomunikasi kepada Tuhan, sedangkan secara horizontal, karawitan merupakan hasil kerjasama antar unsur, bersifat kolektif, saling mendukung sesuai dengan hak dan kewajiban. Hal itu sesuai dengan pola hidup masyarakat Jawa yang sebagian besar menganut asas gotong-royong, lebih mengutamakan kebersamaan.

Comment here