Lain-lain

Optimalkan Media Film Sebagai Sarana Komunikasi dan Edukasi Publik

Semarang (08/09) – Melakukan komunikasi dan memberikan edukasi kepada masyarakat adalah salah satu tugas dari unit kehumasan di Bea Cukai. Tugas tersebut dapat dilaksanakan melalui berbagai media baik cetak, online maupun media kreatif seperti media video/film. Untuk memperkaya referensi terkait hal tersebut, pada Senin, 07 September 2020 Bea Cukai Jateng DIY mengikuti webinar yang bertajuk “Hidup Harus Solutif: Mengoptimalkan Media Film Untuk Edukasi Publik” yang diadakan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.

Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan film pendek yang sangat viral berjudul “Tilik” dengan pemeran yang sangat menyita perhatian publik yaitu Bu Tejo. Mengambil kesempatan ini, sutradara dan pemeran Bu Tejo dalam film ini dihadirkan sebagai narasumber dalam webinar ini. Hadiyanto, Sekretaris Jenderal Kemenkeu menyampaikan bahwa dalam konteks penguatan budaya Kemenkeu, penguatan change management dan perluasan saluran komunikasi diperlukan suatu strategi komunikasi dalam menyebarkan informasi terkait dengan kebijakan pemerintah sehingga tepat sasaran. “Informasi harus tepat sasaran, artinya yang menjadi target sosialisasi tersebut memahaminya dengan benar”, ujarnya. Seperti yang kita ketahui bahwa dimasa pandemi Covid-19, intensitas publik dalam mengakses media streaming film/video meningkat akhir-akhir ini. Hal ini menjadi peluang bagi instansi pemerintah memanfaatkan sarana film/video menjadi salah satu kanal komunikasi publik. “Kita isi ruang publik khususnya di media sosial dengan informasi tentang kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah khususnya Kemenkeu terkait dengan keuangan negara dan kekayaan negara”, tuturnya.

Penyampaian pesan yang baik dalam sebuah video/film tidak terlepas dari kepiawaian surtadara dan pemain dalam menginterpretasikan sebuah naskah. Siti Fauziah, pemeran Bu Tejo dalam film pendek “Tilik” menyampaikan perlunya bagi seorang aktor/aktris untuk mendalami tokoh tersebut dan paham mau digambarkan seperti apa tokoh tersebut. “Jadi saya harus tahu bahwa tokoh Bu tejo ini mau saya gambarkan seperti apa dan saya harus paham naskah ceritanya mau seperti apa. Ini yang akan menjadikan pesan tersebut tersampaikan dengan baik”, jelasnya. Hal senada disampaikan oleh sutradara film pendek “Tilik” Wahyu Agung Prasetyo yang menyampaikan bahwa pemahaman terhadap naskah cerita akan sangat mempengaruhi seorang aktor menginterpretasikan tokoh yang diperankannya. “Penggarapan film “Tilik” ini memakan waktu 8 bulan, dimana 4 bulannya sendiri adalah penggarapan naskahnya. Jadi naskah memang harus matang sehingga pesan apa yang mau disampaikan itu juga sudah matang”, jelasnya.

Comment here