Reformasi Birokrasi

Inisiasi Peningkatan Penyerapan Rotan, Bea Cukai Kalbagsel sambangi Jawa Tengah

Semarang (29/09) – Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar didunia, menurut Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI), dalam satu tahun Indonesia dapat menghasilkan 630.000 ton rotan mentah, dan jika diolah menjadi barang setengah jadi dapat menghasilkan 250.000 ton. Namun jumlah tersebut belum sepenuhnya terserap oleh industri dalam negeri, dan terganjal dengan peraturan larangan ekspor rotan.

Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan (Kalbagsel), yang di dalam wilayah pengawasannya terdapat hutan dan sentra industri rotan, tergerak untuk menginisiasi peningkatan potensi penyerapan rotan dalam negeri dengan melakukan koordinasi dengan pihak terkait di wilayah Jawa Tengah. Hal ini mengingat wilayah Jawa Tengah juga merupakan wilayah industry pengolahan rotan.

Kepala Kanwil Bea Cukai Kalbagsel, Hary Budi Wicaksono, saat kunjungan kerjanya di Bea Cukai Jateng DIY pada Senin 28 September 2020, menyampaikan bahwa perlunya sebuah media penghubung antara hulu (penghasil rotan) dan hilir (pengrajin rotan) pada industri rotan saat ini. Saat ini daya serap industri rotan dalam negeri masih rendah, hanya berkisar 30% dari sediaan rotan yang melimpah di sisi hulu. Namun, hal sebalikanya terjadi di sisi Hilir, yang menyatakan sulitnya memperoleh bahan baku rotan. Maka menurut Budi, diperlukan sebuah pusat logistik rotan baik disisi hulu dan hilir, sehingga dapat saling terhubung dan masing – masing sisi mengetahui kondisi rotan yang sebenarnya. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, dan pelaku usaha industry rotan di Surakarta.

Sementara itu Kepala Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto, menyampaikan dukungan dan kesiapan dalam mewujudkan gagasan tersebut. Menurut Tri, dengan adanya pusat logistik rotan tersebut dapat menjadi sarana pemetaan kebutuhan rotan dalam negeri, sehingga diperoleh data berapa banyak rotan yang dapat diekspor dan diolah dalam negeri. Selain dapat untuk menjadi alasan pencabutan peraturan larangan ekspor, juga meningkatkan daya serap industri rotan dalam negeri.

Comment here