Pengawasan

Efektifkan Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Kaji Perlunya Anjing Pelacak Tembakau

Semarang (01/10) – Menurut survey Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 2018, persentase peredaran rokok ilegal di Indonesia mencapai angka 7,04% atau senilai dengan potensi kerugian negara sebesar Rp910 Milyar. Bea Cukai optimis dan terus berupaya untuk menekan angka tersebut hingga sekitar 1% di tahun 2020. Berbagai upaya dan inovasi pun dilakukan. Kini Bea Cukai berencana membentuk unit Anjing Pelacak Hasil Tembakau atau K-9 HT.

Hal ini terungkap pada Focus Group Discussion (FGD)  yang digelar 28 September 2020 lalu secara daring yang digelar Bea Cukai Jateng DIY. “Memberantas peredaran rokok ilegal tidak semudah membalikkan tangan, memerlukan proses panjang dan berbagai tools didalamnya. Tak cukup hanya dengan penindakan rokok ilegal, sosialisasi kepada masyarakat di wilayah penghasil rokok ilegal, Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT), namun juga dengan tools lain seperti unit K-9 HT ini. Dengan berbagai diversifikasi alat ini, diharapkan secara efektif mampu menekan peredaran rokok ilegal”, ujar Padmoyo Tri Wikanto, Kakanwil Bea Cukai Jateng DIY.

Dalam forum diskusi yang diikuti oleh perwakilan unit Penindakan dan Penyidikan serta tim K-9, muncul beberapa ide dan tanggapan mengenai pengadaan unit K-9 HT ini. Menurut Tim K-9 Bea Cukai Jateng DIY, pengadaan unit K-9 HT sejatinya sudah menjadi salah satu rencana strategis Ditjen Bea Cukai kedepan, namun terkendala dengan bibit anjing yang memenuhi spesifikasi dan referensi program pelatihan anjing tembakau. Namun, unit K-9 tetap optimis, karena pada dasarnya melatih anjing untuk dapat mengendus tembakau sama halnya dengan mengendus ganja.

Kedepan, dengan adanya unit K-9 HT ini, penindakan rokok ilegal dapat dilakukan lebih efektif dan efisien, terlebih pada medan pemeriksaan yang sempit dan waktu yang terbatas seperti di pelabuhan, jasa ekspedisi, dan medan serupa lainnya.

Comment here