Reformasi Birokrasi

Ini Pesan Wakil Ketua KPK untuk Bea Cukai dalam Peringatan Hakordia

Semarang (11/12) – Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata memberikan apresiasi sekaligus pesan kepada pegawai Bea Cukai Jateng DIY khususnya dan DJBC pada umumnya terkait kinerja dan perannya dalam menjaga negara dan masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia 2020 (HAKORDIA) yang dilakukan secara daring pada Jumat 11 Desember 2020.

Alex menyebut bahwa masalah terbesar pemberantasan korupsi di Indonesia adalah tidak ada komitmen dan integritas pimpinan, maka pembangunan Zona Integritas (ZI) yang merupakan deklarasi dari pimpinan suatu instansi bahwa instansinya menerapkan atau membangun ZI, adalah sangat penting.

“Kita bisa belajar tidak hanya dari orang-orang besar namun juga dari orang biasa di selikar kita”, ujarnya setelah menyebutkan beberapa pimpinan yang telah mencontohkan prilaku berintegritas, seperti Bung Hatta, seorang wakil presiden yang tidak bisa membeli sepatu “bally” hingga akhir masa tugasnya. Kemudian ada Mar’ie Muhammad yang dikenal sebagai Mr. Clean karena perjuangannya memberantas korupsi di masanya, dan Heru Pambudi, Dirjen Bea Cukai yang berhasil memperoleh Bung Hatta Awwards atas kepemimpinannya dalam reformasi Bea dan Cukai.

“Kami memberikan penghargaan kepada Cleaning Service KRL Jakarta – Bogor. Dia menemukan uang Rp5oo Juta yang dibungkus plastic. Kalau mau dia bisa bawa pulang. Namun yang terjadi, dia menyerahkan kepada petugas untuk diserahkan kepada pemiliknya”, ujarnya mencontohkan perilaku berintegritas dari orang biasa. “Kami juga memberikan penghargaan kepada seorang penghulu. Yang bersangkutan setiap menikahkan selalu menerima tips selain biaya yang resmi. Tidak besar, hanya seratus duaratus ribu. Namun selalu dilaporkan kepada KPK, ada sekitar 80 kali”, ujarnya menambahkan contoh prilaku mulia.

Wakil ketua KPK dua periode ini juga mengapresiasi kinerja Bea Cukai dewasa ini. Peran Bea Cukai sangat besar. Cotohnya pada awal pandemic , berperan agar APD tidak semuanya diekspor, sehingga APD Dalam Negeri terpenuhi. Pemasukan vaksin juga tak lepas dari penjagaan Bea Cukai. Banyak barang impor yang sebetulnya bisa diproduksi di Dalam Negeri bisa kalah dengan barang dari Luar Negeri jika Bea Cukai tidak menjaganya.

“Tumbuh kembangnya UKM/IKM membutuhkan kerja teman-teman DJBC untuk menjaga pintu masuk barang illegal masuk yang akan mematikan usaha mereka. Kinerja pemberatasan penyelundupan sangat luar biasa yang tentu ada risikonya. Jika terlepas, kita akan menghadapi situasi negara yang lebih sulit lagi. Negara juga harus mendukung sarpras untuk DJBC seperti kapal patroli. Jangan sampai kalah cepat dengan penyelundup”, jelas Alex seraya menyebutkan bahwa risiko suap dan keselamatan diri yang dihadapi, menjadikan pegawai Bea Cukai layah mendapatkan perhatian yang lebih dari negara.

Alex juga menyampaikan pesan agar DJBC selalu menjaga kinerja dan integritasnya. Alex menyebut 4 “No” untuk membangun pemerintahan yang bersih, yaitu meliputi:

  1. No bribery (tidak menyuap);
  2. No kickback (tidak menerima suap):
  3. No gift (tidak menerima garatifikasi):
  4. No Luxurious Hospitaly (tidak menjamu / menerima jamuan secara berlebihan

Comment here