Penerimaan

Kemenkeu Jateng Gelar Konpers APBN 2020

Semarang (14/01) – Sebagai wujud transparansi pengelolaan keuangan negara, Kementerian Keuangan perwakilan Provinsi Jawa Tengah menggelar Konferensi Pers Realisasi APBN 2020 secara daring pada Rabu 13 Januari 2021. Dalam konferensi pers tersebut dihadirkan 5 narasumber dari masing– masing unit eselon I yaitu Kanwil DJP Jateng I, Kanwil DJP Jateng II, Kanwil DJBC Jateng DIY, Kanwil DJKN Jateng DIY dan Kanwil  DJPb Jateng, untuk menyampaikan capaian kinerjanya selama tahun 2020.

Sulaimansyah, Kakanwil DJPb Jateng

Sulaimansyah, Kakanwil DJPb Jateng sekaligus sebagai Kepala Perwakilan Kemenkeu Jateng, memaparkan overview kinerja Kemenkeu dalam menghadapi pandemi dan upaya pemulihan ekonomi daerah. Untuk Realisasi Pemulihan Ekonomi Nasional, Sulaimansyah menyebut bahwa porsi penanganan Kesehatan mengambil porsi yang besar. Telah terealisasi Rp1.19 Triliun dengan pos pengeluaran meliputi untuk insentif Nakes Pusat, Nakes Daerah, Klaim RS, Bantuan Faskes Tk.1 dan Belanja PEN Kemenkes. Bantuan Fskes merupakan bantuan Pemerintah untuk iuran PBPU dan PB Kelas III sebesar Rp15,500,- dari total iuran Rp42,000,- . Adapun Belanja PEN Kesehatan digunakan untuk penyediaan APD, Laporatorium Covid-19, dll, termasuk penegakan PSBB.

Saat ini, pemerintah terus berupaya untuk mengendalikan pandemi covid19 antara lain dengan menyediakan vaksin gratis bagi masyarakat. Rencananya akan terdapat beberapa jenis vaksin, yaitu Sinovac, Novavax, Covax/GAVI, AstreaZaneca, dan Pfizer dengan jumlah total sebanyak 663,5 Juta Vaksin. “Tentunya pemberian vaksin ini merupakan upaya untuk menyudahi pandemi ini, namun tetap tindakan preventif seperti Gerakan 3M atau 3T tetap harus dilaksanakan” ujar Sulaimansyah.

Sulaimansyah juga menginformasikan bahwa Jawa Tengah telah mengalami pemulihan ekonomi pada Kuartal ketiga (Q3) tahun 2020. Meskipun masih diangka negatif namun diproyeksikan akan terus membaik. Pemulihan tersebut disebabkan oleh beberapa factor meliputi meningkatnya efektifitas belanja perlinsos atau bantuan konsumsi masyarakat miskin dan rentan miskin, lalu adanya tren kenaikan angka investasi di Jateng yang terlihat dari penjualan disektor impor barang modal, dan tumbuhnya ekspor postif di bulan November mendorong kenaikan permintaan komoditas utama di Indonesia, membaiknya indeks konsumsi masyarakat dan aktifitas masyarakat yang juga berkembang.

Comment here