Uncategorized

Hingga Mei 2021 Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp16,7 Triliun, Tumbuh 5,9% (yoy)

Semarang (11/6) – Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto membuka Dialog Kinerja Organisasi yang dihadiri oleh seluruh jajaran Eselon III dibawahnya secara daring, pada Kamis 10 Juni 2021. Agenda rutin bulanan tersebut juga sekaligus menjadi wadah dalam evaluasi dan pembahasan langkah strategis dalam mencapai target penerimaan negara di wilayah Bea Cukai Jateng DIY.

Hingga 31 Mei 2021, Bea Cukai Jateng DIY telah mengumpulkan penerimaan negara sebesar Rp16,73 Triliun dari target APBN 2021 sebesar Rp44,84 Triliun.

Capaian penerimaan Bea Cukai Jateng DIY mengalami pertumbuhan 5,94% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp938,4 Milyar. Rinciannya meliputi Cukai sebesar Rp16 triliun, Bea Masuk sebesar Rp703,6 Milyar, dan Bea Keluar sebesar Rp20,45 Milyar.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Penerimaan dan Pengelolaan Data, Agus Nugroho memaparkan bahwa penerimaan sampai dengan 31 Mei 2021 telah mencapai 37,3% dari target tahunan. Meski belum menyentuh 50% di fase menuju semester kedua, penerimaan secara total tumbuh dibanding tahun sebelumnya yang didorong oleh tumbuhnya penerimaan Cukai Hasil Tembakau sebesar 5,84% (yoy).

Agus merincikan realisasi Cukai sampai dengan akhir Mei mencapai Rp16 Triliun. Penerimaan Cukai, khususnya Hasil Tembakau pada bulan Mei meningkat Rp1,5 Triliun dibanding bulan April 2021 disebabkan dengan adanya kenaikan produksi Hasil Tembakau sebesar 813 juta batang.

Disamping itu, Agus menyampaikan peningkatan aktivitas perdagangan internasional berdampak positif terhadap Bea Masuk. Bea Masuk mencatatkan realisasi penerimaan sebesar Rp703,6 Milyar. Mengalami pertumbuhan 15,47% (yoy) atau sebesar Rp 94,3 Milyar.

Sementara dengan Bea Keluar masih mengalami kontraksi dengan capaian sebesar Rp20,45 Milyar. Penerimaan Bea Keluar hingga Mei 2021 mengalami penurunan -21,34% (yoy) atau sebesar Rp5,6 Milyar.

“Kita perlu memperhatikan akar masalah, yang pertama adalah karena objek Covid-19 yang mengakibatkan penerimaan Bea Keluar atau juga sempat Bea Masuk terpukul akibat lesunya perekonomian. Penurunan -21,34% di Bea Keluar juga diakibatkan penurunan tarif Bea Keluar komoditi terbesar penyumbang Bea Keluar yakni produk-produk veneer,” jelas Agus.

Comment here