Penerimaan

Genjot Penerimaan untuk APBN, Bea Cukai Jateng DIY Setor Rp20,44 Triliun

Semarang  (13/7) – Kepala Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng dan DIY, Padmoyo Tri Wikanto dalam Konferensi Pers APBN secara online pada Senin, 12 Juli 2021, mengatakan bahwa Bea Cukai Jateng DIY terus berupaya menggenjot penerimaan negara untuk memperkuat APBN.

Menurut Tri Wikanto, APBN yang kuat sangat dibutuhkan terutama dalam masa pandemi Covid-19. Optimalisasi penerimaan negara berupa Bea Masuk, Bea Keluar dan Cukai harus terus dilakukan.

“Pada semester I 2021, Bea Cukai Jateng DIY telah menyetorkan penerimaan ke Kas Negara sebesar Rp20,44 Triliun. Meski baru 45,58% dari target sebesar Rp44,84 Triliun, namun mengalami pertumbuhan sebesar 17,3% dari tahun sebelumnya (yoy) dan merupakan penerimaan tertinggi dalam 5 tahun terakhir”, ungkap Tri Wikanto.

Realisasi tersebut jauh lebih baik dari tahun 2020 naik sebesar Rp3,01 Triliun. Kontributor utamanya adalah sector Cukai dengan capaian Rp19,56 Triliun, disusul Bea Masuk sebesar Rp848,6 Milyar, dan Bea Keluar sebesar Rp 34,58 Milyar.

Meski terjadi penurunan tingkat produksi rokok lebih dari 3 Milyar batang pada jenis Sigaret Kretek Mesin dan Sigaret Kretek Tangan, namun dibanding 2020 penerimaan cukai hasil tembakau naik sebesar Rp2,87 Triliun atau tumbuh 17,93% (yoy). Kenaikan ini dikontribusi pelunasan CK1 2020 sebesar Rp6,34 Triliun.

Akumulasi penerimaan Bea Masuk semester I 2021 juga mengalami pertumbuhan sebesar 16,86% (yoy) atau sebesar Rp122,4 Milyar. Importasi komoditas bahan baku susu, tas, hingga produk porcelain menjadi kontributor terbesar.

Senada dengan Bea Masuk, Bea Keluar akhirnya mengalami pertumbuhan positif sebesar 22,36% (yoy) atau senilai Rp6,4 Milyar. Adanya kenaikan eksportasi produk turunan CPO di bulan Juni menjadikan lonjakan penerimaan sektor Bea Keluar sekaligus penutup kinerja positif Bea Keluar di semester I, setelah beberapa bulan sebelumnya selalu terkontraksi akibat dari lesunya ekonomi ditengah pandemi yang berakibat rendahnya harga CPO di pasar dunia.

Comment here