Transformasi Kelembagaan

Humas Bea Cukai Se-Jateng DIY Belajar Kelola Berita Negatif

Semarang (29/06) – Citra positif menjadi sangat penting bagi sebuah institusi guna memperoleh kepercayaan publik. Termasuk Bea Cukai yang tak jarang menghadapi krisis komunikasi yang disebabkan oleh pemberitaan negatif di media.

“Bea Cukai sebagai salah satu instansi pemerintah yang melaksanakan pelayanan publik, Bea Cukai juga dihadapkan pada pemberitaan negatif di media. Hingga Juni 2022, berita negatif di media tentang Bea Cukai sebanyak 32 berita dan 42% nya berasal dari wilayah Jawa Tengah dan DIY” tutur Kepala Subdirektorat Strategi Komunikasi, Monitoring dan Evaluasi Tubagus Firman Hermansjah saat FGD Kehumasan pada Selasa, 28 Juni 2022 di Kanwil Bea Cukai Jateng DIY.

Firman menyampaikan bahwa berita negatif adalah berita yang mengandung kebenaran dan bernada negatif yang dapat merusak citra dan menurunkan kepercayaan publik. “Nada negatif tersebut bisa disebabkan adanya ketidakpuasan terhadap layanan bea cukai, adanya sentimen negatif, penjelasan yang kurang lengkap atas suatu peristiwa yang sedang terjadi atau bisa disebabkan oleh awak media yang salah mengutip” jelasnya.

Selanjutnya Teddy Triatmojo, Kepala Seksi Strategi dan Riset Komunikasi Publik menjelaskan bagaimana cara mengelola krisis komunikasi yang disebabkan oleh pemberitaan media yang negatif. “Ketika kita mendapati adanya berita negatif langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisa berita tersebut. Pesan kunci apa yang sebenarnya disampaikan, setelah itu kita cek akurasi kebenaran pemberitaan tersebut dengan konfirmasi kepada pihak yang bersangkutan” tuturnya.

Analisa dilanjutkan dengan mengidentifikasi kredibilitas narasumber dan kepentingannya terhadap berita negatif tersebut. “Terakhir lakukan cek seberapa viral sebaran pemberitaan tersebut, semua itu nanti yang akan menentukan langkah penanganan berita negatif tersebut” lanjutnya.

“Tidak semua berita negatif perlu direspon, hal ini tergantung dengan hasil analisa awal. Apabila hasil analisis menunjukkan tingkat krisis yang tinggi maka diperlukan langkah untuk merespon dengan menentukan narasumber sesuai dengan level dan tanggung jawab isunya. Respon juga bisa dilakukan melalui media sosial atau dengan media melalui siaran pers, pernyataan pers atau konferensi pers” pungkasnya.

Comment here