Lain-lainPenerimaan

Sudah Ditetapkan di 6 Negara ASEAN, Indonesia Menyusul Kenakan Cukai Minuman Berpemanis?

Semarang (11/10) – Bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Bea Cukai gelar Seminar Optimalisasi Peranan Cukai Bagi Pembangunan Nasional Melalui Kebijakan Ekstensifikasi Cukai pada Kamis, 10 November 2022. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa pada program S-1, S-2 dan S-3 Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Gizi. Salah satu yang menjadi pokok pembahasan dalam seminar ini adalah terkait kajian implementasi pengenaan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Bea Cukai Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta yang di wakili oleh Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai, Bobby Situmorang mengungkapkan latar belakang pembahasan implementasi pengenaan cukai pada MBDK salah satunya adalah dari faktor kesehatan. “Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes pada 2021 sebesar 19,47 juta dan angka tersebut meningkat pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Penderita diabetes tercatat meroket 167% dibandingkan dengan jumlah penderita diabetes pada 2011 yang hanya 7,29 juta. IDF memperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia dapat mencapai 28,57 juta pada 2045,” ungkap Bobby.

Tak hanya itu, Bobby juga mengungkapkan bahwa peningkatan prevalensi berat badan berlebih (overweight) dan obesitas terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar negara-negara anggota perlu melakukan kebijakan fiskal yang dapat mempengaruhi pola konsumsi. Salah satu jenis barang yang harus dapat dikendalikan adalah minuman berpemanis. Terdapat keterkaitan positif antara minuman berpemanis dengan obesitas dan berat badan serta risiko penyakit-penyakit kardiovaskuler sehingga konsumsinya harus dibatasi. Dengan demikian, ekstensifikasi barang kena cukai atas minuman berpemanis telah memenuhi ketentuan Undang-Undang Cukai.

Hal ini disambut baik oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Taufiq Hidayah. Taufiq mengapresiasi dan menyambut baik gelaran seminar kebijakan ekstensifikasi cukai. Pihaknya siap bekerjasama dalam upaya penurunan angka diabetes dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

Bertindak sebagai narasumber, Kepala Subdirektorat Potensi Cukai dan Kepatuhan Pengusaha BKC, Direktorat Teknis & Fasilitas Cukai Aris Sudarminto secara spesifik menerangkan mengenai konsep dasar cukai, latar belakang dan perkembangan pengenaan cukai di Indonesia. Aris juga menyoroti bahwa Indonesia merupakan negara di Indonesia yang memiliki objek cukai paling minim di Asia Tenggara. “Saat ini di Indonesia baru mengenakan cukai terhadap 3 (tiga) objek yaitu Hasil Tembakau, Minuman Mengandung Etil Alkohol dan Etil Alkohol. Sementara kalau kita lihat negara tetangga kita di ASEAN, Thailand bisa mengenakan sampai dengan 21 objek cukai. Untuk minuman berpemanis sendiri sudah ditetapkan di sebagian besar negara di ASEAN yaitu Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia dan Myanmar.”

Sementara itu, Kepala Seksi Potensi Cukai, Direktorat Teknis & Fasilitas Cukai, Ali Winoto yang juga merupakan narasumber, memaparkan secara lebih rinci wacana kebijakan ekstensifikasi cukai minuman berpemanis dalam kemasan. “Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dari pengenaan cukai MBDK, diantaranya mendorong Industri memproduksi produk dengan kadar gula yang lebih rendah, mendorong pola konsumsi yang lebih sehat, mengurangi jumlah penderita penyakit tidak menular termasuk diabetes dan mendukung peningkatan angka kesehatan di masyarakat.”

Melalui webinar ini Bea Cukai berharap bahwa rencana kebijakan pengenaan cukai MBDK dapat berjalan dengan optimal selain melalui proses kebijakan yang andal, transparan, dan berbasis fakta, namun juga diterima oleh masyarakat sebagai salah satu pihak yang akan terdampak kebijakan.

Comment here